Rabu, 26 Oktober 2016

KONSEP KEBAHAGIAAN MENURUT KHO PING HOO DAN TINJAUAN MENURUT ISLAM

Setiap orang pasti menghendaki dapat hidup bahagia. Mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk mewujudkannya. Secara normatif, kebahagiaan itu merupakan suatu bentuk emosi atau perasaan yang positif, tenang, nyaman, puas dan sebagainya. Definisi ini masih samar-samar dan multitafsir, sehingga kemudian banyak orang yang mendefinisikannya secara lebih operasional. 

Banyak orang secara subyektif mendefinisikan bahagia secara lebih operasional. Misalnya, bahagia itu apabila memilih rumah dan mobil mewah dan istri yang cantik dan penurut, bahagia itu apabila dihormati dan mempunyai banyak teman, bahagia itu apabila dipermudah segala urusan, dan sebagainya. Orang mendefinisikan bahagia berdasarkan pencapaian kebutuhan. Hal ini menyebabkan kebahagiaan yang diperoleh merupakan kebahagiaan yang semu, karena pada dasarnya kebutuhan manusia akan selalu berubah dari waktu ke waktu.
Penjelasan kebahagiaan banyak terdapat dalam komik cerita silat yang ditulis oleh Kho Ping Hoo. Komik yang berseting di Tiongkok kuno ini, juga banyak berisi filsafat mengenai kehidupan, salah satunya mengenai kebahagiaan. Menurutnya, kebahagian akan didapatkan apabila seseorang tidak membutuhkan apa-apa, bahkan kebahagiaan itu sendiri. Keinginan seseorang akan timbul apabila seseorang memikirkan sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan lewat panca indera. Keinginan yang disertai untuk memuaskan keinginan tersebut akan menimbulkan suatu kebutuhan. Suatu pencapaian kebutuhan, akan menciptakan kebutuhan dalam level yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Orang yang selalu mengejar kebutuhan yang sebenarnya diciptakannya sendiri, tidak akan dapat merasakan kebahagiaan.
Apabila dicermati filsafat di atas, maka kebahagiaan seseorang ditentukan oleh pikirannya. Untuk mencapai kebahagiaan, orang harus bisa membebaskan pikiran dari hal-hal menyenangkan yang nantinya membuat seseorang berkeinginan untuk mencapainya sebagai sebuah kebutuhan. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa membebaskan pikiran dari kesenangan dan kebutuhan hidup? apakah mungkin kita menghilangkan pikiran dari hal-hal yang sifatnya duniawi?. Pada cerita silat yang ditulis Kho Ping Hoo tidak ditulis bagaimana caranya hal tersebut dapat dilakukan.
Pengendalian pikiran terhadap kesenangan dunia yang menjadi kebutuhan setiap manusia, dalam Islam dikendalikan dengan bersyukur. Islam membolehkan umatnya untuk mencari kebutuhan duniawinya, seperti disebutkan dalam Al Qur'an:
QS. Al Jumuah ayat 10
Artinya: Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumil dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS. Al-Jumuah ayat 10).

Namun di sisi yang lain, Islam juga mewajibkan umatnya untuk senantiasa bersyukur. Perintah untuk bersyukur sangat jelas, bahkan disebutkan sebanyak 75 kali dalam Al Qur'an. Pada Surat Ibrahim ayat 7 Allah berfirman:

QS. Ibrahim ayat 7
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim ayat 7).

Ayat di atas menyiratkan bahwa apabila kita dapat bersyukur atas nikmat-Nya, maka akan ditambahkan nikmat, yang bisa berupa harta benda, atau kebutuhan-kebutuhan lain, dan bisa juga berupa ketenangan batin dan kebahagiaan.
Berdasarkan hal tersebut, maka bahagia menurut Islam adalah kondisi emosi atau perasaan yang positif, stabil, tenang, nyaman, puas dan sebagainya, yang diperoleh karena manusia senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diterimanya. Namun, bukan suatu hal yang mudah agar kita bisa senantiasa bersyukur. Pada diri manusia terdapat 3 buah kekuatan yang mempengaruhi perilaku. Apabila dianalogikan dengan anatomi tubuh manusia, maka kekuatan tersebut adalah pikiran yang berada di kepala, hati atau kalbu yang terletak di dada, dan nafsu diwakili (maaf) oleh alat kelamin.
Pikiran berada paling atas yang akan bereaksi ketika tubuh melakukan penginderaan terhadap sesuatu. Apa yang dipikirkan kemudian akan ditimbang di hati atau yang terletak di tengah. Apabila hati atau kalbu dipenuhi iman, maka akan menimbang secara baik sehingga hanya pikiran-pikiran yang positif yang diimplementasikan dalam perilaku. Adapun apabila hati atau kalbu kotor, maka pikiran-pikiran kotor dam hawa nafsu akan diimplementasikan pada bagian bawah. Sungguh tidak bisa dibayangkan apabila anatomi tubuh manusia dibalik, sehingga alat pemuas nafsu terletak di kepala hati atau kalbu berada di bawah (silahkan bayangkan sendiri). Seseorang yang mempunyai hati atau kalbu yang bersih dan mampu menimbang secara tepat mana yang baik dan salah, akan menjadi insan yang pandai bersyukur, serta akan dicukupkan kebutuhan dan memperoleh kebahagiaan, seperti janji Allah.
Apabila disintesiskan lagi dari uraian di atas, maka bahagia adalah kondisi emosi atau perasaan yang positif, stabil, tenang, nyaman, puas dan sebagainya, yang diperoleh dari hati atau kalbu yang bersih karena iman, sehingga dapat senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diterimanya. Semoga kita bisa mencapai hal ini.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Rabu, Oktober 26, 2016

Selasa, 25 Oktober 2016

MENGENAL PEMBELAJARAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISSION (STAD)

STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan Slavin, dan merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (Isjoni, 2011 : 74). Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok  kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok (Trianto, 2009 : 68).
Slavin (1991 : 20-21) menyatakan bahwa STAD are made up of five major components: class presentations, teams, quizzes, individual improvement scores, and team recognition.
1.    Class presentations. The teacher initially introduces the material in a class presentation.
2.    Teams. Teams are composed of four or five students who represent a cross-section of the class in academic performance, sex, and race or ethnicity. The major function of the team is to prepare its members to do well on the quizzes. The team is the most important feature of STAD. At every point, the emphases are on the members doing their best for the team and on the team doing its best for the members. The team provides important peer support for academic performance; it also provides the mutual concern and respect that are important for producing such outcomes as improved intergroup relations, self-esteem, and acceptance of mainstreamed students.
3.    Quizzes. The quizzes are designed to test the knowledge the students have gained from class presentations and team practice. During the quizzes students are not permitted to help one another. This ensures that every student is individually responsible for knowing the material.
4.   Individual improvement scores. The idea behind the individual improvement scores is to give each student a performance goal that he or she can reach, but only by working harder than in the past. Any student can contribute maximum points to his or her team in this scoring system, but no student can do so without showing definite improvement over past performance.
5.    Team recognition. Newsletter is the primary means of rewarding teams and individual students for their performance. Each week the teacher prepares a newsletter to announce team scores. The newsletter also recognizes individuals showing the greatest improvement or completing perfect papers and reports cumulative team standing.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa STAD dibangun di atas lima komponen utama: presentasi kelas, kelompok, kuis, peningkatan skor individu, dan penghargaan kelompok.
1.    Presentasi kelas. Guru mula-mula mengajarkan materi dalam presentasi kelas.
2.    Tim. Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili kelas dalam kinerja akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnis. Fungsi utama dari tim adalah untuk mempersiapkan anggotanya dalam mengerjakan kuis secara baik. Tim adalah fitur yang paling penting dari STAD. Pada setiap titik, penekanan adalah anggota melakukan yang terbaik untuk tim dan tim melakukan yang terbaik bagi anggota. Tim ini menyediakan dukungan teman sebaya yang penting bagi prestasi akademik; juga menyediakan perhatian bersama dan rasa hormat yang penting untuk memproduksi hasil seperti perbaikan hubungan antar kelompok, harga diri, dan penerimaan siswa.
3.    Kuis. Kuis dirancang untuk menguji pengetahuan para siswa yang diperoleh dari presentasi kelas dan latihan tim. Selama kuis siswa tidak diizinkan untuk membantu satu sama lain. Hal ini memastikan bahwa setiap siswa secara individual bertanggung jawab untuk mengetahui materi.
4.    Peningkatan skor individu. Ide di balik peningkatan skor individual adalah untuk memberikan setiap siswa tujuan kinerja yang bisa dicapai, tetapi hanya dengan bekerja lebih keras daripada di masa lalu. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimal kepada timnya dalam sistem penilaian ini, tetapi tidak ada siswa yang dapat melakukannya tanpa menunjukkan peningkatan yang pasti atas kinerja masa lalu.
5.    Penghargaan kelompok. Piagam adalah sarana utama dalam memberikan penghargaan terhadap tim dan diri siswa untuk kinerja mereka. Setiap minggu guru mempersiapkan piagam untuk mengumumkan skor tim. Piagam juga mengakui individu yang menunjukkan peningkatan terbesar atau menyelesaikan makalah yang sempurna dan laporan skor tim kumulatif.
Berkenaan dengan cara membagi siswa dalam kelompok/tim, maka Slavin (2008 : 150) memberikan pedoman, yaitu seimbangkan tim supaya: (a) tiap tim terdiri atas level yang kinerjanya berkisar dari yang rendah, sedang, dan tinggi, dan (b) level kinerja yang sedang dari semua tim yang ada di kelas hendaknya setara.
Skor perbaikan dilihat berdasarkan nilai tes atau kuis dibandingkan dengan skor dasar. Skor dasar adalah nilai rata-rata siswa berdasar tes dan kuis di masa lampau atau skor yang ditentukan oleh nilai semester lalu atau tahun lalu (Eggen & Kauchak, 2012 : 146). Pedoman penghitungan skor perkembangan individu dapat dideskripsikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1
Pedoman Pemberian Skor Perkembangan lndvidu
Skor Tes
Skor Perkembangan
a.    Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
b.    10 hingga 1 poin di bawah skor awal
c.    Skor awal sampai 10 poin di atasnya
d.    Lebih dari 10 poin di atas skor awal
e.    Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
5
10
20
30
30
Sumber : Isjoni (2011 : 76)
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti dideskripsikan pada tabel 2.
Tabel 2
Tingkat Penghargaan Kelompok
Rata-rata Tim
Predikat
0 ≤ X ≤ 5
5 ≤ X ≤ 15
15 ≤ X ≤ 25
25 ≤ X ≤ 30
-
Tim Baik
Tim Hebat
Tim Super
Sumber : Trianto (2009 : 72)
Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi dapat diberikan piagam dan apabila memungkinkan hadiah, sehingga siswa semakin tertantang dan termotivasi untuk belajar, dan berharap kelompoknya menjadi kelompok super dan mendapatkan penghargaan.

Referensi:
Eggen, P., & Kauchak, D. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran: Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir. Penerjemah: Satrio Wahono. Jakarta : Indeks.

Isjoni. (2011). Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Slavin, R. E. (1991). Student Team Learning: A Practical Guide to Cooperative Learning. Washington, D.C. : National Education Association of the United States.

Slavin, R. E. (2008). Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung : Nusa Media.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta : Kencana.


Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Selasa, Oktober 25, 2016

Senin, 24 Oktober 2016

PENGERTIAN PROKRASTINASI (KEBIASAAN MENUNDA TUGAS/PEKERJAAN)

ProkrastinasiBurka & Yuen (2008) menyatakan bahwa procrastination comes from the joining of two Latin words:  pro,  meaning “forward,” and  crastinus , which means “belong-ing to tomorrow. Prokrastinasi berasal dari gabungan dua kata Latin: pro, berarti "maju," dan crastinus, yang berarti "milik besok. McCloskey & Scielzo (2015) menyatakan bahwa academic  procrastination  refers  to  the  tendency  to  needlessly  put  off  or  delay  school-related  activities  and  behaviors. Prokrastinasi akademik mengacu pada kecenderungan untuk menyia-nyiakan atau menunda kegiatan dan perilaku yang berkaitan dengan sekolah.
Ferrari & Olivette (1994) menyatakan bahwa terdapat dua jenis prokrastinasi, yaitu:
a.    Indecisiveness or decisional procrastination
A cognitive antecedent of performance delay, decisional procrastination is said to be a coping pattern used to deal with decision-making situation perceived as stressful. Decisional procrastination has been related to diffuse-identity, forgetfulness, and cognitive processing failure, but not associated with a lack of intelligence.
b.    Avoidant  procrastination
A tencency to delay task performance as a way to avoid aversive task, performance failure, or threats to self-esteem. Avoidant procrastination has beed related to self-presentation styles, a desire to distance oneself from challenging task, and dysfunctional impulsiveness at the last moment of task performance.
Terdapat dua jenis prokrastinasi, yaitu :
a.    Penundaan putusan (decision procrastination)
Sebuah kognitif yang mempengaruhi keterlambatan kinerja, penundaan putusan (decision procrastination) dikatakan sebagai pola koping yang digunakan untuk menangani situasi pengambilan keputusan yang dirasakan penuh stres. Penundaan putusan telah terkait dengan diffussion-identity, pelupa, dan kegagalan proses kognitif, tetapi tidak terkait dengan kurangnya kecerdasan.
b.    Penundaan penghindar  (avoidant  procrastination)
Kecenderungan untuk menunda kinerja tugas sebagai cara untuk menghindari tugas tidak menyenangkan, kegagalan kinerja, atau ancaman terhadap harga diri. Avoidant procrastination berhubungan dengan gaya presentasi diri, keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang, dan disfungsional impulsif pada saat terakhir dari kinerja tugas.
Burka & Yuen (2008) menyatakan bahwa the three characteristics that bear the strongest statistical relationship to procrastination are:
a.    the “intention-action gap,” which refers to a failure to act upon one’s intentions (even though procrastinators plan to work as hard as anyone else, or harder);
b.    low “conscientiousness,” which refers to not doing one’s duty, having difficulty with purposeful planning and perseverance, and experiencing low motivation for achievement unless work is intrinsically engaging; and
c.    poor self-discipline, referring to a lack of self-control in planning and organization.
Terdapat tiga karakteristik yang berhubungan paling kuat secara statistik terhadap prokrastinasi, yaitu:
a.    "celah niat-tindakan," yang mengacu pada kegagalan untuk bertindak atas niat seseorang (meskipun penunda berencana untuk bekerja keras seperti orang lain, atau lebih keras);
b.    "kesadaran" rendah, yang mengacu pada tidak melakukan kewajiban, mengalami kesulitan dengan perencanaan tujuan dan ketekunan, dan motivasi yang rendah untuk berprestasi kecuali pekerjaan yang secara intrinsik menarik; dan
c.    disiplin diri yang rendah, mengacu pada kurangnya kontrol diri dalam perencanaan dan organisasi.

Referensi:
Burka, J. B., & Yuen, L. M. (2008). Procrastination: Why You Do It, What to Do About It Now. Boston: Da Capo Press.

Ferrari, J. R., & Olivette, M. J. (1994). Parental Authority and the Development of Female Dysfunctional Procrastination. Journal of Research in Personality. Vol. 28, 1994, pp: 87-100.

McCloskey, J.,  & Scielzo, S. (2015). Finally!: The Development and Validation of  the Academic Procrastination Scale. dalam http://www.researchgate. net/publication/273259879

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Senin, Oktober 24, 2016

Sabtu, 22 Oktober 2016

HATI-HATI, PERUT BESAR BERPOTENSI MENIMBULKAN PENYAKIT

Sebagian orang beranggapan bahwa apabila berat badannya ideal dan tidak mengalami obesitas, maka risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler menjadi rendah. Namun, ada sesuatu yang tidak diketahuinya, yaitu masalah lemak perut. Perut yang besar menunjukkan banyaknya timbunan lemak dalam perut, dan hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan. 
Francisco Lopez-Jimenez, seorang kardiologis klinik Mayo di Rochestor melakukan penelitian selama 14 tahun terhadap lebih dari 15.000 orang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa laki-laki dengan berat badan normal tetapi mempunyai perut besar memiliki kemungkinan meninggal dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang mengalami obesitas. Wanita dengan berat normal dan perut besar memiliki kemungkinan meninggal lebih tinggi sebesar 32% dibandingkan wanita dengan obesitas.
Banyak ahli menyatakan bahwa faktor genetik dan gaya hidup, dan usia menentukan di mana kelebihan lemak akan ditimbun dalam tubuh. Timbunan lemak perut yang mempunyai bentuk seperti buah apel dianggap para ahli lebih mengkhawatirkan daripada lemak yang mengendap di pinggul dan sebelah bawahnya, yang berbentuk seperti buah pir. Lemak perut selain terdiri dari lapisan yang terletak di bawah kulit (lemak subkutan), juga termasuk lemak visceral, yang membungkus organ-organ dalam tubuh.
Secara umum, kita bisa menyatakan bahwa semakin besar lingkar pinggang, berarti lemak perut dan juga lemak visceral juga meningkat. Lemak visceral aktif secara metabolik, yang berarti menghasilkan hormon dan faktor lainnya yang menstimulasi peradangan. Peradangan memainkan peran penting dalam akumulasi timbunan kolesterol dalam pembuluh darah, yang berpotensi menimbulkan permasalahan kardiovaskuler, diantaranya adalah hipertensi, penyakit jantung dan stroke. Timbunan lemak perut juga dapat menyebabkan sindrom resistensi insulin yang menjadi penyebab diabetes tipe 2.
Sit up yang rutin dilakukan bukan merupakan solusi untuk menghilangkan lemak perut, tanpa disertai dengan diet yang sehat, terutama diet rendah karbohidrat. Kombinasi diet sehat dan olah raga menjadi solusi untuk meminimalisasi timbunan lemak perut.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Sabtu, Oktober 22, 2016