Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

MENGENAL PEMBELAJARAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISSION (STAD)

STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan Slavin, dan merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (Isjoni, 2011 : 74). Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok  kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok (Trianto, 2009 : 68).
Slavin (1991 : 20-21) menyatakan bahwa STAD are made up of five major components: class presentations, teams, quizzes, individual improvement scores, and team recognition.
1.    Class presentations. The teacher initially introduces the material in a class presentation.
2.    Teams. Teams are composed of four or five students who represent a cross-section of the class in academic performance, sex, and race or ethnicity. The major function of the team is to prepare its members to do well on the quizzes. The team is the most important feature of STAD. At every point, the emphases are on the members doing their best for the team and on the team doing its best for the members. The team provides important peer support for academic performance; it also provides the mutual concern and respect that are important for producing such outcomes as improved intergroup relations, self-esteem, and acceptance of mainstreamed students.
3.    Quizzes. The quizzes are designed to test the knowledge the students have gained from class presentations and team practice. During the quizzes students are not permitted to help one another. This ensures that every student is individually responsible for knowing the material.
4.   Individual improvement scores. The idea behind the individual improvement scores is to give each student a performance goal that he or she can reach, but only by working harder than in the past. Any student can contribute maximum points to his or her team in this scoring system, but no student can do so without showing definite improvement over past performance.
5.    Team recognition. Newsletter is the primary means of rewarding teams and individual students for their performance. Each week the teacher prepares a newsletter to announce team scores. The newsletter also recognizes individuals showing the greatest improvement or completing perfect papers and reports cumulative team standing.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa STAD dibangun di atas lima komponen utama: presentasi kelas, kelompok, kuis, peningkatan skor individu, dan penghargaan kelompok.
1.    Presentasi kelas. Guru mula-mula mengajarkan materi dalam presentasi kelas.
2.    Tim. Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili kelas dalam kinerja akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnis. Fungsi utama dari tim adalah untuk mempersiapkan anggotanya dalam mengerjakan kuis secara baik. Tim adalah fitur yang paling penting dari STAD. Pada setiap titik, penekanan adalah anggota melakukan yang terbaik untuk tim dan tim melakukan yang terbaik bagi anggota. Tim ini menyediakan dukungan teman sebaya yang penting bagi prestasi akademik; juga menyediakan perhatian bersama dan rasa hormat yang penting untuk memproduksi hasil seperti perbaikan hubungan antar kelompok, harga diri, dan penerimaan siswa.
3.    Kuis. Kuis dirancang untuk menguji pengetahuan para siswa yang diperoleh dari presentasi kelas dan latihan tim. Selama kuis siswa tidak diizinkan untuk membantu satu sama lain. Hal ini memastikan bahwa setiap siswa secara individual bertanggung jawab untuk mengetahui materi.
4.    Peningkatan skor individu. Ide di balik peningkatan skor individual adalah untuk memberikan setiap siswa tujuan kinerja yang bisa dicapai, tetapi hanya dengan bekerja lebih keras daripada di masa lalu. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimal kepada timnya dalam sistem penilaian ini, tetapi tidak ada siswa yang dapat melakukannya tanpa menunjukkan peningkatan yang pasti atas kinerja masa lalu.
5.    Penghargaan kelompok. Piagam adalah sarana utama dalam memberikan penghargaan terhadap tim dan diri siswa untuk kinerja mereka. Setiap minggu guru mempersiapkan piagam untuk mengumumkan skor tim. Piagam juga mengakui individu yang menunjukkan peningkatan terbesar atau menyelesaikan makalah yang sempurna dan laporan skor tim kumulatif.
Berkenaan dengan cara membagi siswa dalam kelompok/tim, maka Slavin (2008 : 150) memberikan pedoman, yaitu seimbangkan tim supaya: (a) tiap tim terdiri atas level yang kinerjanya berkisar dari yang rendah, sedang, dan tinggi, dan (b) level kinerja yang sedang dari semua tim yang ada di kelas hendaknya setara.
Skor perbaikan dilihat berdasarkan nilai tes atau kuis dibandingkan dengan skor dasar. Skor dasar adalah nilai rata-rata siswa berdasar tes dan kuis di masa lampau atau skor yang ditentukan oleh nilai semester lalu atau tahun lalu (Eggen & Kauchak, 2012 : 146). Pedoman penghitungan skor perkembangan individu dapat dideskripsikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1
Pedoman Pemberian Skor Perkembangan lndvidu
Skor Tes
Skor Perkembangan
a.    Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
b.    10 hingga 1 poin di bawah skor awal
c.    Skor awal sampai 10 poin di atasnya
d.    Lebih dari 10 poin di atas skor awal
e.    Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
5
10
20
30
30
Sumber : Isjoni (2011 : 76)
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti dideskripsikan pada tabel 2.
Tabel 2
Tingkat Penghargaan Kelompok
Rata-rata Tim
Predikat
0 ≤ X ≤ 5
5 ≤ X ≤ 15
15 ≤ X ≤ 25
25 ≤ X ≤ 30
-
Tim Baik
Tim Hebat
Tim Super
Sumber : Trianto (2009 : 72)
Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi dapat diberikan piagam dan apabila memungkinkan hadiah, sehingga siswa semakin tertantang dan termotivasi untuk belajar, dan berharap kelompoknya menjadi kelompok super dan mendapatkan penghargaan.

Referensi:
Eggen, P., & Kauchak, D. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran: Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir. Penerjemah: Satrio Wahono. Jakarta : Indeks.

Isjoni. (2011). Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Slavin, R. E. (1991). Student Team Learning: A Practical Guide to Cooperative Learning. Washington, D.C. : National Education Association of the United States.

Slavin, R. E. (2008). Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung : Nusa Media.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta : Kencana.


Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Selasa, Oktober 25, 2016

Senin, 24 Oktober 2016

PENGERTIAN PROKRASTINASI (KEBIASAAN MENUNDA TUGAS/PEKERJAAN)

ProkrastinasiBurka & Yuen (2008) menyatakan bahwa procrastination comes from the joining of two Latin words:  pro,  meaning “forward,” and  crastinus , which means “belong-ing to tomorrow. Prokrastinasi berasal dari gabungan dua kata Latin: pro, berarti "maju," dan crastinus, yang berarti "milik besok. McCloskey & Scielzo (2015) menyatakan bahwa academic  procrastination  refers  to  the  tendency  to  needlessly  put  off  or  delay  school-related  activities  and  behaviors. Prokrastinasi akademik mengacu pada kecenderungan untuk menyia-nyiakan atau menunda kegiatan dan perilaku yang berkaitan dengan sekolah.
Ferrari & Olivette (1994) menyatakan bahwa terdapat dua jenis prokrastinasi, yaitu:
a.    Indecisiveness or decisional procrastination
A cognitive antecedent of performance delay, decisional procrastination is said to be a coping pattern used to deal with decision-making situation perceived as stressful. Decisional procrastination has been related to diffuse-identity, forgetfulness, and cognitive processing failure, but not associated with a lack of intelligence.
b.    Avoidant  procrastination
A tencency to delay task performance as a way to avoid aversive task, performance failure, or threats to self-esteem. Avoidant procrastination has beed related to self-presentation styles, a desire to distance oneself from challenging task, and dysfunctional impulsiveness at the last moment of task performance.
Terdapat dua jenis prokrastinasi, yaitu :
a.    Penundaan putusan (decision procrastination)
Sebuah kognitif yang mempengaruhi keterlambatan kinerja, penundaan putusan (decision procrastination) dikatakan sebagai pola koping yang digunakan untuk menangani situasi pengambilan keputusan yang dirasakan penuh stres. Penundaan putusan telah terkait dengan diffussion-identity, pelupa, dan kegagalan proses kognitif, tetapi tidak terkait dengan kurangnya kecerdasan.
b.    Penundaan penghindar  (avoidant  procrastination)
Kecenderungan untuk menunda kinerja tugas sebagai cara untuk menghindari tugas tidak menyenangkan, kegagalan kinerja, atau ancaman terhadap harga diri. Avoidant procrastination berhubungan dengan gaya presentasi diri, keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang, dan disfungsional impulsif pada saat terakhir dari kinerja tugas.
Burka & Yuen (2008) menyatakan bahwa the three characteristics that bear the strongest statistical relationship to procrastination are:
a.    the “intention-action gap,” which refers to a failure to act upon one’s intentions (even though procrastinators plan to work as hard as anyone else, or harder);
b.    low “conscientiousness,” which refers to not doing one’s duty, having difficulty with purposeful planning and perseverance, and experiencing low motivation for achievement unless work is intrinsically engaging; and
c.    poor self-discipline, referring to a lack of self-control in planning and organization.
Terdapat tiga karakteristik yang berhubungan paling kuat secara statistik terhadap prokrastinasi, yaitu:
a.    "celah niat-tindakan," yang mengacu pada kegagalan untuk bertindak atas niat seseorang (meskipun penunda berencana untuk bekerja keras seperti orang lain, atau lebih keras);
b.    "kesadaran" rendah, yang mengacu pada tidak melakukan kewajiban, mengalami kesulitan dengan perencanaan tujuan dan ketekunan, dan motivasi yang rendah untuk berprestasi kecuali pekerjaan yang secara intrinsik menarik; dan
c.    disiplin diri yang rendah, mengacu pada kurangnya kontrol diri dalam perencanaan dan organisasi.

Referensi:
Burka, J. B., & Yuen, L. M. (2008). Procrastination: Why You Do It, What to Do About It Now. Boston: Da Capo Press.

Ferrari, J. R., & Olivette, M. J. (1994). Parental Authority and the Development of Female Dysfunctional Procrastination. Journal of Research in Personality. Vol. 28, 1994, pp: 87-100.

McCloskey, J.,  & Scielzo, S. (2015). Finally!: The Development and Validation of  the Academic Procrastination Scale. dalam http://www.researchgate. net/publication/273259879

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Senin, Oktober 24, 2016

Sabtu, 27 Agustus 2016

TIPS MENANAMKAN TANGGUNG JAWAB PADA ANAK

Tips menanamkan tanggung jawab pada anakTanggung jawab merupakan salah satu karakter penting untuk ditanamkan kepada anak. Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, sebagaimana yang seharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter tanggung jawab perlu ditanamkan kepada anak, agar nantinya anak dapat menjadi pribadi yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas yang menjadi kewajibannya. Menanamkan karakter tanggung jawab kepada anak tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui suatu proses berkelanjutan, sehingga nilai tanggung jawab dapat tertanam kuat dan dapat diimplementasikan dalam keseharian mereka.
Berikut beberapa tips yang dapat digunakan orang tua dalam menanamkan tanggung jawab kepada anak, diantar anya:
Dimulai sejak dini pada kegiatan yang sederhana
Berikan kepercayaan kepada anak sedini mungkin untuk melakukan suatu aktivitas untuk membantu orang tua, misalnya membuang sampah pada tempatnya, dan menata tempat tidur. Orang tua harus mengajarkan bahwa tugas yang sederhana tersebut harus dikerjakan oleh anak sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Menanamkan bahwa segala sesuatu mempunyai konsekuensi
Orang tua harus menjelaskan kepada anak, bahwa segala perbuatan pasti mempunyai konsekuensi. Anak harus siap dengan segala konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Misalnya, apabila anak melanggar aturan, maka akan terkena sanksi/hukuman, apabila anak suka berbohong, maka tidak akan dipercaya teman-temannya.

Jangan memberikan hadiah atas pertolongan yang dilakukan
Jangan memberikan hadiah kepada anak ketika menolong teman atau orang tua. Dengan tidak memberikan hadiah, maka anak akan mengerti bahwa menolong orang lain itu merupakan hal yang wajib dilakukan. Pada diri anak juga akan timbul empati atas kesusahan dan penderitaan orang lain.

Biarkan anak menanggung konsekuensi dari perbuatannya
Orang tua hendaknya membiarkan anak menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Apabila anak melakukan suatu kesalahan, jangan membelanya, tetapi biarkan anak menanggung kesalahan yang diperbuatnya. Hal ini akan melatih anak untuk bertanggung jawab dengan segala perbuatannya.

Jadikan tanggung jawab menjadi nilai keluarga
Orang tua harus sering berdiskusi dengan anak mengenai pentingnya tanggung jawab dalam kehidupan. Tanamkan kepada anak bahwa hal itu merupakan sebuah nilai yang penting dalam keluarga. Orang tua harus memberikan teladan mengenai tanggung jawab, sehingga anak dapat belajar dengan melihat perilaku orang tua.

Apa yang dideskripsikan di atas, tentulah bukan semua cara untuk menanamkan tanggung jawab pada anak. Sedikit cara di atas, diharapkan menjadi sumber informasi tambahan dalam rangka menanamkan nilai-nilai tanggung jawab kepada anak.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Sabtu, Agustus 27, 2016

TELEVISI VS PENDIDIKAN KARAKTER

Televisi vs Pendidikan Karakter
Anak harapan masa depan
Televisi pada saat ini merupakan hiburan utama keluarga Indonesia. Masyarakat dimanjakan dengan banyaknya saluran televisi, sehingga bisa memilih acara yang disukai. Anak-anak menjadikan menonton televisi sebagai menu kegiatan utama sehari-hari. Anak bisa betah menonton televisi berjam-jam, tanpa henti. Kegiatan menonton televisi yang berlebihan menyebabkan pengaruh acara televisi sangat besar terhadap anak. Pola belajar anak adalah dengan cara meniru (learning by imitation). Apa yang dilihatnya akan mudah untuk diadopsi dalam perilaku mereka.
Apabila diperbandingkan, maka minat menonton televisi akan lebih besar daripada minatnya belajar. Apa yang dilihat di televisi akan lebih mudah diserap dan dipelajari daripada apa yang diajarkan oleh guru. Televisi seakan menjadi guru yang pertama dan utama bagi anak. Mereka lebih percaya dengan televisi daripada guru dan orang tua. Pendidikan karakter yang dilakukan guru dan orang tua akan menjadi efektif, apabila anak melihat tontonan televisi yang menggambarkan hal sebaliknya dari apa yang diajarkan orang tua dan guru.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting dalam menyeleksi yang dapat ditonton oleh anak. Banyak acara televisi saat ini yang kurang pas untuk ditonton oleh anak dan butuh bimbingan orang tua. Orang tua harus dapat memilihkan dan mengarahkan acara televisi yang ditonton anak. Banyaknya stasiun televisi mempermudah orang tua dalam melakukan hal tersebut.
Apabila orang tua tidak dapat mengontrol acara televisi yang ditonton anak, berpotensi menyebabkan pendidikan karakter yang dilakukan guru dan orang tua menjadi kurang efektif. Keteladanan yang ditunjukkan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai moral dan perilaku tertentu, tidak akan efektif apabila acara televisi yang ditonton anak menunjukkan hal sebaliknya. Nasihat guru dan orang tua menjadi tidak efektif apabila acara televisi yang dintonton oleh anak menunjukkan hal yang berbeda.
Apabila anak dibiarkan untuk menonton terus program acara televisi dari luar negeri, seperti film asing, sinetron asing, berpotensi mengaburkan nilai-nilai agama dan sosial dalam hal respek, kesopanan, susila. Hal ini karena  nilai-nilai dan norma yang berbeda dengan kita. Hal yang lebih dikhawatirkan, apabila anak memiliki kekaguman terhadap budaya dari negara asal acara televisi yang ditontonnya, walaupun budaya tersebut tidak sesuai dengan budaya masyarakat.
Selain itu, apabila ditelaah, maka acara televisi pada saat ini banyak menampilkan hal-hal yang menjadi obsesi dari anak-anak (ganteng, kaya, disukai lawan jenis, jagoan, dan sebagainya). Perilaku yang ditunjukkan juga banyak mencerminkan sifat-sifat keduniawian. Hal ini berpotensi untuk meningkatkan semangat keduniawiaan, dan ini bukan merupakan karakter yang diharapkan.

Namun, orang tua juga tidak perlu untuk melarang anak menonton televisi, karena televisi juga mempunyai dampak yang positif bagi anak. Dampak positif dan negatif televisi dapat dilihat di sini. Orang tua hendaknya dapat mengatur jadwal menonton televisi dan memilihkan dan mengarahkan acara televisi yang ditonton anak, serta melakukan bimbingan kepada anak ketika menonton televisi.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Sabtu, Agustus 27, 2016

Jumat, 28 Februari 2014

TIPS BERKOMUNIKASI YANG BAIK DENGAN SISWA

Tips Berkomunikasi yang Baik dengan Siswa
Suasana Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, tentu saja terjadi interaksi antar siswa, maupun antara guru dengan siswa. Komunikasi memegang peranan penting dalam keberhasilan interaksi yang terjadi . Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi mengenai cara berkomunikasi yang baik dengan siswa, walaupun esensinya bisa juga digunakan untuk komunikasi dalam bidang yang lain.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Jumat, Februari 28, 2014

Selasa, 31 Desember 2013

OBROLAN CAKRUK : WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN

OBROLAN CAKRUK : WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN
Seperti biasa, malam sabtu merupakan malam di mana saya bertugas untuk meronda. Walaupun malam itu dingin dan hujan rintik-rintik, saya mengusir malas jauh-jauh dan berjalan menuju cakruk. Rupanya saya datang paling belakang, semua teman sudah kumpul sambil melihat televisi, mengobrol, minum teh dan sedikit camilan. Sayapun segera bergabung bersama mereka. Sambil menyeruput teh manis untuk sekedar mengatasi dingin, saya mendengarkan obrolan teman-teman. Rupanya, mereka sedang berbicara masalah pendidikan.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Selasa, Desember 31, 2013

Kamis, 19 Desember 2013

TIPS MEMBERIKAN HUKUMAN PADA SISWA

TIPS MEMBERIKAN HUKUMAN PADA SISWA
Membaca postingan dari mbak Etika Maria mengenai "Guruku Killer", jadi timbul hasrat untuk menulis postingan ini, untuk berbagi informasi lebih khususnya kepada para guru. Akhir-akhir ini sering terdengar kasus-kasus kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa, dengan dalih menegakkan disiplin dan aturan serta membuat jera siswa yang melanggarnya. Apakah kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan dapat efektif ditegakkan melalui pemberian hukuman ? Menurut saya itu semua tergantung kasusnya dan juga tergantung jenis hukumannya. Hukuman fisik apalagi sampai menyakiti siswa menurut saya tidak mendidik dan selayaknya tidak dilakukan guru.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Kamis, Desember 19, 2013

Rabu, 18 Desember 2013

PEMBELAJARAN BERWAWASAN KEMASYARAKATAN SEBAGAI MEDIA PENYADARAN NILAI-NILAI LOKAL
Suatu siang, Anto seorang pelajar sebuah SMA swasta di Bantul Yogyakarta yang baru pulang dari sekolah disuruh ibunya untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya ke sawah. Makanan tersebut untuk ayahnya dan tukang traktor yang disewa ayahnya untuk membajak sawah yang akan ditanami padi. Anto yang terkenal "funky" itu seketika pura-pura pusing dan segera bergegas masuk ke kamarnya. Ibunya hanya menghela napas, sambil mengeluarkan sepeda "ontel" butut dan bergegas ke sawah mengantar makanan yang sudah ditunggu ayahnya.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Rabu, Desember 18, 2013

Minggu, 01 Desember 2013

KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR

KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR
Bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah, hampir setiap hari harus membimbing anak dalam belajar. Beban materi anak sekolah sekarang juga dirasakan lebih padat dibandingkan ketika kita dulu sekolah. Beban materi yang padat, pada mata pelajaran hapalan memungkinkan anak mudah lupa, sehingga orang tua harus berusaha untuk menemukan trik untuk diajarkan kepada anak agar tidak mudah lupa dalam menghapal materi pelajaran.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Minggu, Desember 01, 2013

Senin, 17 Juni 2013

KEMITRAAN SEKOLAH DAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

KEMITRAAN SEKOLAH DAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Pada postingan terdahulu telah dibahas penerapan pendidikan karakter pada pendidikan dasar dan menengah. Namun demikian pendidikan karakter tidak bisa hanya dilakukan dalam lingkungan sekolah, tetapi juga harus dilakukan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Suasana kehidupan di sekolah dan di rumah mempengaruhi perkembangan kepribadian anak, karena hal itu merupakan wahana penyemaian nilai-nilai yang akan dijadikan acuan oleh anak dalam setiap tindakannya.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Senin, Juni 17, 2013

Kamis, 06 Juni 2013

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


Tentu kita masih ingat dengan Gayus Tambunan, mafia pajak yang mempunyai rekening fantastis dari hasil kongkalikong dengan pengusaha hitam dalam memanipulasi pajak, atau Ahmad Fathanah yang sering memanjakan wanita-wanita cantik dengan uang haramnya. Tentu kita juga sering mendengar dan melihat berita kasus-kasus tawuran antar pelajar. Ini hanya beberapa contoh kasus dari ratusan bahkan mungkin ribuan kasus penyimpangan moral yang terjadi di negeri ini. Kalau mau disebutkan satu-persatu, satu postingan juga tidak selesai. Apakah bangsa ini sedang mengalami apa yang disebut degradasi moral ?

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Kamis, Juni 06, 2013

Selasa, 04 Juni 2013

BELAJAR DARI "GOOGLE"


Google merupakan search engine yang sangat familiar bagi  pengguna internet termasuk anak kecil. Pada postingan ini saya mencoba berbagi pengalaman yang terjadi dalam keluarga. Sebagai orang tua yang mempunyai anak usia sekolah, maka hampir setiap malam, kita harus mau membimbing anak untuk belajar atau mengerjakan PR. Anak-anak seringkali bertanya kepada orang tua apabila tidak dapat mengerjakan PR.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Selasa, Juni 04, 2013

Jumat, 31 Mei 2013

PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING


Sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh suatu bangsa sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya  pembangunan nasional yang dilakukan. Pada akhirnya akan berpengaruh pada keberhasilan suatu bangsa bersaing di dunia internasional, karena sumber daya manusia merupakan kekuatan utama sebuah bangsa untuk meraih keberhasilan di masa depan.
Kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia. The United Nation Development Program (UNDP) pada tanggal 2 November 2011 mengeluarkan sebuah laporan Human Development Index (HDI). Laporan yang dirilis UNDP tersebut, Indonesia menempati urutan ke 124 dari 187 negara yang di survei dengan perolehan nilai 0,617. Nilai ini mengalami kenaikan pada dari nilai yang diperoleh dua tahun terakhir yaitu tahun 2009 sebesar 0,593 sedangkan pada tahun 2010 sebesar 0,600. Posisi ini di bawah lima Negara Asia Tenggara lainnya yaitu; Singapura yang menempati urutan 26, diikuti oleh Brunei di urutan 33, Malaysia di urutan 61, Thailand di urutan 10, dan Philipina pada urutan ke 112.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Jumat, Mei 31, 2013