Kamis, 25 Agustus 2016

BELAJAR ISTIQOMAH DARI MBAH PAWIRO

Mbah Pawiro bukan pejabat, bukan artis, bukan tokoh politik, bukan juga kyai. Mbah Pawiro hanya seorang kakek sederhana yang berusia lebih dari 90 tahun dari Dusun Kasihan, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Orang tua yang sederhana dan bersahaja. Hal yang menurut saya hebat adalah ke-istiqomah-annya dalam menjaga sholat berjamaah di Masjid.
Selama setahun ini, beliau seakan telah menampar muka saya. Mbah Pawiro, walaupun jalannya sudah tertatih-tatih, dan menderita tremor di bagian mulut, setiap hari, setiap waktu sholat, selalu datang paling awal ke masjid untuk sholat berjamaah. Hujan deras tidak akan menjadi halangan bagi beliau untuk sholat berjamaah di masjid, walaupun jarak rumahnya ke masjid + 300 meter, sebuah jarak yang cukup jauh untuk ukuran orang dengan kondisi seperti beliau. Adapun saya, yang usianya mungkin hanya separuh usia beliau, sehat secara fisik, tidak setiap saat bisa sholat berjamaah. Alasan masih ada pekerjaan, seringkali menjadi pembenaran dari rasa malas, apabila kalau sedang hujan lebat.


Mbah Pawiro
Ke-istiqomah-annya, menggelitik sanubari dan perlahan menggugurkan bongkahan-bongkahan rasa malas yang menghadang langkah saya sholat berjamaah di masjid. Walaupun belum bisa menjadi seperti beliau, minimal maghrib dan Isa, saya berusaha sholat berjamaah di masjid, sebuah hal yang patut saya syukuri. Sebuah ironi, kyai-kyai yang berkotbah di masjid dan mengajarkan keutamaan sholat berjamaah di masjid, tidak mampu merubah saya menjadi sosok yang gemar sholat secara berjamaah di masjid. Sosok mbah Pawiro, yang tidak banyak bicara dan hanya tersenyum dan menyapa kalau bertemu, ternyata membawa banyak perubahan pada diri saya.
Beberapa hari lalu, ketika bersebelahan saat sholat Isa di masjid, beliau mengajak saya bicara, "kulo pun tinggal balung kalih kulit, ning taksih diparingi napas. Benjang menawi kulo boten wonten, jenengan kalih jamaah liyane kulo suwun nyolati kulo, trus ngeterke teng kidul sumber gih.." (saya tinggal tulang dan kulit, tapi masih diberi nafas. Besok kalau saya meninggal, kamu dan jamaah lainnya saya minta untuk menyolatkan saya, dan kemudian mengantar ke selatan sumber). Saya terhenyak mendengarnya, beliau tampak ikhlas ketika mengucapkannya, seakan sudah benar-benar siap untuk dipanggil Yang Kuasa.

Apabila boleh meminta, saya berharap agar mbah Pawiro diberi kesehatan dan umur panjang, agar sosok beliau dapat menginsipirasi semua orang. Mengajar tanpa kata, merubah tanpa tindakan, hanya keteladanan.

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Kamis, Agustus 25, 2016

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Kunjungannya
Harap berkomentar yang santun
dan tidak ada unsur SARA dan pornografi
Maaf, komentar dengan link aktif akan dihapus