Jumat, 31 Januari 2014

BELAJAR DARI YOGYAKARTA

Belajar dari Yogyakarta
Sumber
Beberapa predikat melekat pada kota Yogyakarta atau sering disingkat menjadi Jogja. Kota pendidikan, kota pelajar, kota budaya, kota gudeg adalah beberapa predikat yang melekat pada kota Yogyakarta, yang membuatnya istimewa. Bicara tentang Kota Yogyakarta tentu tidak akan terlepas dari Kraton sebagai salah satu pusat budaya Jawa, dan tentu saja raja-raja Kraton Yogyakarta. Banyak yang bisa kita pelajari dari budaya Yogyakarta dan kepemimpinan raja Yogyakarta. Banyak pelajaran bisa dipetik dari sejarah kepemimpinan, budaya, dan kearifan lokal dari kota Yogyakarta.

Nasionalisme
Apabila merunut sejarah, maka Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bergabung dengan Indonesia melalui amanat 5 September 1945 yang dikeluarkan Sri Sultan Hamengkubowono IX setelah mendengar pendapat rakyat Yogyakarta tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Nasionalisme Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditunjukkan dari usulnya untuk memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946 karena situasi Jakarta yang tidak aman. Nasionalisme rakyat Yogyakarta ditunjukkan dengan perjuangannya bersama TNI untuk menunjukkan eksistensi Indonesia kepada dunia melalui Serangan Umum 1 Maret 1949. Nasionalisme pada masa kini diwujudkan Kraton Yogyakarta dengan  melestarikan budaya, sebagai kekayaan dari budaya nasional.

Kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat
Kepemimpinan di Kesultanan Yogyakarta berdasarkan kepemimpinan leluhurnya, Kerajaan Mataram, yang berpedoman pada Kitab Nitipraja Karangan Sultan Agung, dimana pemimpin harus berpihak pada rakyat. Salah satu bagian dari Kitab tersebut dinyatakan bahwa hidup ini banyak sekali tantangan, sehingga pemimpin harus membulatkan tekad bersama rakyat dan para cendekiawan, bermusyawarah secara baik, dan menyatukan tujuan bersama. Bentuk keberpihakan terhadap rakyat juga diwujudkan dengan menyediakan kawasan Malioboro sebagai tempat berjualan bagi rakyat, dan memperbolehkan rakyat yang tidak mempunyai tanah untuk menempati tanah milik kraton (sultan ground). Warga yang akan menempati sultan ground harus mendaftarkan diri untuk didata perijinannya, dan selanjutnya akan dikeluarkan sertifikat dari Kraton Yogyakarta sebagai hak warga yang mengunakan tanah tersebut. Namun, warga tidak diperbolehkan untuk memperjualbelikannya.
Menjelang kejatuhan rezim orde baru, Sri Sultan Hamengkubuwono X, sebagai raja Yogyakarta juga turun ke jalan-jalan untuk menenangkan demonstran agar tidak bertindak anarkis, serta menjenguk para korban dari demonstrasi besar-besaran kala itu. Untuk mencegah anarki Sri Sultan juga memperbolehkan demonstran untuk masuk ke alun-alun Lor pada saat puncak demonstrasi menentang Soeharto pada tanggal 20 Mei 1998. Upaya Sri Sultan Hamengkubowono X tersebut cukup efektif, sehingga kejadian anarkis relatif kecil dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia.

Pluralisme
Yogyakarta sebagai kota pendidikan, menarik minat banyak pendatang dengan latar belakang suku, agama, dan budaya tinggal di Yogyakarta untuk menempuh pendidikan. Masyarakat Yogyakarta dapat menerima dan berinteraksi dengan pendatang dengan berbagai ragam latar belakang suku, agama, dan budaya tersebut, saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Hampir tidak pernah terjadi gesekan bernuansa SARA di Yogyakarta.
Sosok pluralis Sri Sultan Hamengkubuwono ditunjukkan dengan diterimanya Sangsako adat Kerajaan Pagaruyung Minangkabau pada tahun 2002. Sultan diberi gelar Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati (Yang Dipertuan Maharaja Alam Sakti) dan Ratu Hemas diberi gelar Puan Gadih Puti Reno Indaswari (Puan Gadis Putri Reno Inderaswari). Sultan disebut seorang yang rendah hati, pengayom bagi masyarakat secara keseluruhan dan masyarakat Minang khususnya.

Masih banyak kearifan lokal dari Yogyakarta yang dapat dipelajari misalnya bagaimana mengelola pariwisata berbasis masyarakat dan sebagainya, yang bisa diungkap pada kesempatan lain. Postingan ini bukan bermaksud untuk menonjolkan Yogyakarta, karena pasti setiap daerah mempunyai kekhasan masing-masing. Keterbatasan pengetahuan saya membuat saya tidak bisa mengungkapkan kearifan lokal daerah lain.

== semoga bermanfaat ==

Berbagi Informasi
Berbagi Informasi Updated at: Jumat, Januari 31, 2014

73 komentar:

  1. Kapan ya saya bisa ke jogja...??? udah lama pengen kesana tapi belum kesampaian :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. disempatin mas, kalau gak disempatin gak sempat-sempat .. hehe

      Hapus
    2. Saya terakhir ke Jogjakarta lebaran kemarin. Satu minggu saya sekeluarga berlebaran ke rumah orang tua istri di daerah Kulon Progo. Sekitar 1 jam dari kota Jogjakarta. Wah kenangan banged hihihi. Apalagi merasakan Ramadhan di sana Wow Super sekali. Jadi kangen Jogja nih hiks hiks

      Hapus
    3. Ternyata istri dari Kulonprogo to kang Asep. Sebentar lagi jadi ramai Kulonprogo setelah bandaranya dibangun, sudah gencar-gencarnya sosialisasi dan pembebasan tanah

      Hapus
  2. kangen juga nih ke yogyakarta, .ingat bakpia patoknya malioboro..sudah lama jg mas sy tidak kesana, kunjungan perdana, follow ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya banyak khasnya, gak cuma bakpia, barangkali mau belajar membatik, ada. Mau belajar bikin batik kayu, ada. Macam2 kok mas .. hehehe

      Hapus
  3. Wah artikel yg menarik nih mas. Kebetulan tanggal 22 aku juga mau tour ke jogja ni mas. Makasih ya sharenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada kunjungan ke taman pintar atau malioboro, bisa ketemu mas, soalnya saya rutin jemput anak di SMP 2. itu di persis di sebelah taman parkir ... besok nginapnya dimana ..?

      Hapus
  4. kutho pelajar lan kabudayan.
    kutho sepur juga kayaknya mas, tuh balai yasa pengok menjadi tempat ngoprek sepur yang lagi mogok. hehehe
    Joja emang plural dan saling toleran, hawane mendukung mungkin ya mas ?
    masalah nasionalisme itu yang sangat sportif, walaupun dulu kerajaan tapi rela melepas teritorialnya kepada negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah cak Agus sudah pernah ke Balai Yasa di pengok ya .. ?
      Masyarakat Jogja memang toleran mas, mau ngapain saja bebas asal gak ganggu orang lain. Mangkanya saya gak mau pulang ke kampung halaman dan malas untuk pindah dari Jogja .. hehe

      Hapus
  5. yogyakarta selalu dikenal sebagai kota yang penuh sejarah maka dari itu selalu jadi tempat tujuan study tour..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, cuma sayangnya objek yang dikunjungi itu hanya objek2 yang sudah lama dikenal. Padahal masih banyak objek wisata lain yang tidak kalah bagusnya, mau wisata edukasi, wisata sejarah, wisata budaya, ada semua .. hehehe

      Hapus
  6. Walau belum pernah menetap di Yogyakarta saya pribadi terkesan dengan kota budaya dan pelajar ini. Bila mendengar kata 'Yogyakarta' ingatan saya biasanya langsung tertuju pada kraton, sultan, ugm, malioboro, parangtritis, atau samas. Yogyakarta memang istimewa. Saya pernah tujuh minggu mengikuti pendidikan dan pelatihan disini, mengikuti seminar di UGM, outbound di Kaliurang, studi banding ke Bantul, wisata, dan lainnya. Pengalaman yang amat mengesankan. Tentu masing-masing daerah memiliki kekhasan dan keunggulan. Begitu beragam Indonesia ini. Semuanya saling mengisi, bersinergi, dan bersatu dibawah naungan NKRI. Salam cemerlang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang ada balai diklat untuk pegawai negeri, ada dua dan yang satu dekat dengan rumah saya di kasihan, trus yang satu di baciro. Setiap daerah memang memiliki kekhasan sendiri-sendiri, kearifan lokal sendiri-sendiri, kebhinekaan yang terjalin dalam NKRI, salam cemerlang ..

      Hapus
  7. udah lama ndak ke kota jogja....pingin juga nginget pernah sempet sekolah di sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang yang pernah sekolah/kuliah di Jogja biasanya tetap mempunyai ikatan emosi dengan Jogja. Saya barangkali yang cukup kuat. tahun 86 saya pertama kali di Jogja, dan hanya selama setahun saya pergi meninggalkan Jogja lalu kembali dan memutuskan menetap ..

      Hapus
  8. jogja memang kota pendidikan sekaligus kota budaya ya mas. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kota tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, banyak sekali pendatang mahasiswa/pelajar, bisnis kos di Jogja cukup menjanjikan, tapi akibatnya harga tanah melambung tinggi .. hehe

      Hapus
  9. Jogja memang penuh sejarah dan kenangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti pernah tinggal di Jogja mas, penuh kenangan .. hehehe

      Hapus
  10. OMG, saya belum pernah ke Jogja....pengen banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan disempatkan ke Jogja, biar gak penasaran .. hehehe

      Hapus
  11. jongja memang indah dan tempatnya yg begitu bersih jadi hanya orang bodoh saja yang gk pingin ke jogja salam sukses selalu http://healthtozone.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya orang yang pernah tinggal dan menempuh pendidikan di Joga punya ikatan emosi dengan Jogja dan selalu ingin kembali ke Jogja. Itu sebabnya perumahan-perumahan di Jogja khususnya yang elit, sebagian besar dibeli oleh orang dari luar Jogja, selain untuk investasi dan tempat tinggal anaknya kalau kuliah di Jogja, juga dipersiapkan untuk menetap setelah mereka pensiun ..

      Hapus
  12. kota jogja emg keren, :)
    kapan y bisa kesana :D

    BalasHapus
  13. pasti seru kalau bisa maen ke yogya.. :)
    sayang'a ane blm pernah kesana gan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mas, banyak alternatif wisata di sana, wisata edukasi, wisata alam, wisata budaya, atau wisata sejarah. kalau mau dkunjungi semua barangkali butuh waktu lama .. hehehe

      Hapus
  14. Kapan ya saya dapat berlibur ke Jogja?
    hehe

    BalasHapus
  15. memang keren ya yogyakarta ini...memang pantas menyandang berbagai gelar tersebut, dan layak juga dijadikan destinasi wisata yang wajib dikunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya banyak tempat wisata di Jogja yang sebenanya baik atau mendidik, kurang dipromosikan secara baik sehingga orang dari luar Jogja tidak mengetahuinya ..

      Hapus
  16. Jogja selain sebagai kota pelajar/pendidikan jogja mempunyai adat kebudayaan jawa yang tinggi banyak ciri khas yang di sandangnya dan itu memang cocok

    BalasHapus
  17. Jogja itu salah satu impian studi saya dulunya mas Is.. hehehe.. tapi gimana lagi, nama nya jalan hidup, saya harus terima. Dulu saya pengen banget bisa kuliah di akuntansi UGM, tapi belum saya dapatkan.. Tapi beberapa teman saya ada yang kuliah dan menyelesaikan pendidikan di UGM sana dengan hasil yang sangat memuaskan.. bagi saya itu sudah cukup mengobati keinginan saya hehehehe...

    Setelah saya tamat kuliah, saya punya kesempatan kerja di PT Hotel Indonesia Natour (Inna Group), dimana hotel ini adalah hotel BUMN yang punya banyak group di Indonesia. Kalau di Jogja namanya Inna Garuda. Kebijakan dari kantor pusat ternyata saya di kirim lagi ke kampung, di Padang namanya Inna Muara. Setelah saya bekerja sekitar dua tahun di Inna Muara, Padang, katanya saya akan di promosikan ke Kantor Pusat untuk di tempatkan di bagian SPI. Tapi sebelumnya saya udah ngajuin keinginan gimana kalau saya di promosiin ke Inna Garuda, Jogja aja.., tapi si bos agak keberatan kaya nya ,. ya udah, akhirnya menginjak tahun ke 3 saya resign mas.., karena kalau di tempatkan di Kantor Pusat, berarti saya harus balik lagi dong ke Jakarta.. hehehe..

    Setelah saya resign pun, saya masih punya keinginan gimana caranya saya bisa sampai ke Jogja.. Alasan saya cuman satu.., disana kotanya kondusif banget, dan disana banyak orang-orang pintar. Kabarnya masyarakatnya open sekali sama pendatang, dan belajar agama pun sangat mendukung sekali, karena disana banyak para ustad-ustad mumpuni tamatan luar negeri.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bicara masalah agama, saya pikir Jogja sangat toleran. Di daerah seputaran UGM banyak jamaah-jamaah aliran agama yang hidup dan berkembang, dan saling menghargai. Setahu saya dulu gak pernah ada konflik di daerah sana. Di daerah tempat saya tinggal sekarang juga ada 2 masjid yang letaknya cukup berdekatan, paling hanya 100-an meter. Keduanya membawa aliran yang berbeda dan ada jamaahnya masing-masing, tapi dalam kegiatan sosial mereka membaur tidak ada masalah. Kalau masalah banyak ahli agama lulusan luar negeri, barangkali karena di Jogja juga ada IAIN dan juga beberapa perguruan tinggi lain yang membuka Fakultas Agama Islam, serta adanya 2 pesantren yang cukup terkenal di daerah Krapyak ...

      Hapus
  18. Balasan
    1. Kalau kepingin Jogja, sebaiknya disempatin mas, ntar anaknya ngiler .. hehehehe

      Hapus
  19. Wah jogja adalah kota impian saya mas.. Saya nggak pengen liburan kemana mana. Saya hanya pengen ke jogja.. Undang saya main ke jojga donk mas.?hehehdhe

    BalasHapus
  20. Wah jogja adalah kota impian saya mas.. Saya nggak pengen liburan kemana mana. Saya hanya pengen ke jogja.. Undang saya main ke jojga donk mas.?hehehdhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha monggo kalau mau main ke Jogja, liburan lebih asyik barangkali. Kalau untuk warga Jogja, liburan itu bikin stres, karena jalan-jalan banyak macet .. hehehe

      Hapus
  21. banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kota yogyakarta ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau menggali budaya Jawa, saya pikir Jogja tempatnya karena budaya memang diuri-uri masyarakatnya. Banyak hikmah bisa didapatkan ...

      Hapus
  22. jogja memang menjadi tujuan bagi para pelajar mas, di daerah saya tak jarang yang menimba ilmu di kota jojga

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul...tapi kalau saya rasakan akhir2 ini. ghirahnya seperti sedikit menurun...g tahu kenapa, atau cuma perasaan saya saja -_-

      Hapus
    2. @Ari Gond3s : memang banyak sekali pendatang dari luar Jogja untuk belajar.
      @Kang Zeer : barangkali karena otonomi daerah, sekarang banyak berdiri sekolah dan perguruan tinggi di daerah, sehingga karena faktor biaya menyebabkan mereka memilih sekolah di daerahnya. Untuk perguruan tinggi favorit barangkali gak begitu terasa ..

      Hapus
  23. kalo nyebut yogya, yang gue inget itu adalah belanja pakean..
    soalnya, selain matahari, yogya diskonnya lumayan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kalau menurut saya sih sama saja...malah terkadang kalau tidak hati2 dikasih barnag yang kualitasnya rendah dengan harga yang tinggi...:(

      Hapus
    2. Saya sepakat dengan kang Zeer, khususnya untuk produk-produk batik dan belinya di pasar atau di Malioboro, harus pinter2 nawar dan membandingkan harga. Alangkah baiknya kalau beli di toko2 batik yang harganya pas, tapi barangkali harganya lebih mahal, tetapi kualitasnya terjamin ..

      Hapus
  24. Balasan
    1. keratonnya cuma satu lho bang...kalau gudegnya banyak...:D

      Hapus
  25. kan kan kan...Mas Is mepingini to...jadi pingin pulaaang...emaaaak, kangeen....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kangen ya pulang Mbak Khusna, tapi sebaiknya pas mas Berkah cuti, kasihan kalau nanti ditinggal sendiri .. hehehe
      Mbak Khusna itu tetangga desa saya kang Zeer ..

      Hapus
  26. harus rajin-rajin ke jogja nih supaya dapat ilmu banyak ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahkan kalau bisa menetap saja dijogja...jadi orang jogja...nanti biar bisa deket dengan saya rumahnya (edisi mengharap ) :D

      Hapus
  27. saya pernah dengar DIY ini PAD-ne kecil. padahal potensi pariwisatanya luar biasa dahsyat dan susah dicari tandingannya. belum lagi status sebagai kota pelajar yang seharusnya mendapat prioritas penegmbangannya dari pemerintah pusat. investasi di yogyalah barangkali jawabannya. moga2 yogya makin top.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum dikelola dengan baik...dikulon progo sendiri yang wisata alamnya tak kalah dengan GUnkid saja belum dikelola dengan baik....semoga pemimpin2 akan datang bisa berkontribusi lebih baik

      Hapus
    2. Saya sepakat dengan Kang Zeer, barangkali karena pengelolaannya termasuk promosinya yang kurang optimal, barangkali karena banyaknya objek wisata sehingga pemda kesultan menangani semuanya sekaligus. Kalau sekarang ada fenomena pengelolaan tempat wisata berbasis masyarakat. Saya gak tahu apa hanya fenomena di beberapa tempat wisata baru atau memang sudah jadi kebijakan. Kalau masalah prioritas dari pemerintah pusat, setelah penetapan daerah istimewa memang ada perhatian khusus dengan adanya dana istimewa dan bulan Nevember kemarin turun 500 milyar (termin pertama). Tapi sebagian kalangan berpikir itu hanya akal-akalan pihak tertentu untuk dapat bancakan. Banyak daerah yang gak mau nerima dana istimewa karena SPJ harus selesai bulan Desember, padahal itu sangat menentukan turunnya termin kedua.

      Hapus
  28. jogja pancen top markotop...ai lepyu jogja...saya orang jogja asli lho :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pantas sering ke Jogja, ternyata pulang kampung .. hehe

      Hapus
  29. mungkin karena banyaknya pelajar dari berbagai daerah itu sehingga jogja demikian plural

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi, masyarakat akhirnya terbiasa berinteraksi dengan orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda ..

      Hapus
  30. Balasan
    1. hahaha bisa saja mas Valentino, sorry ya kalau kadang saya telat berkunjung ..
      sampai sekarang blognya mas Valentino belum bisa muncul di daftar bacaan, sudah diperbaharui tetap gak muncul, jadi sering kelupaan karena saking banyaknya blog teman yang harus dikunjungi .. hehehe

      Hapus
  31. jagja oh jogja...hehehe
    jogja memang keren mas, selainkota pelajar, jogja juga banyak sejarah budayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin sama dengan Bali bli .. bali juga banyak sekali objek wisatanya. Saya masih kepingin nih liburan ke Bali, banyak saudara di Denpasar dan di Karangasem. Kalau di Denpasar biasanya saya nginap saudara di daerah Panjer atau di daerah Kubu ..

      Hapus
  32. yogyakarta memang gudang nya ilmu ya mas, jadi tak heran kalau kota yang satu ini dijadikan sebagai kota pendidikan :)

    BalasHapus
  33. jadi pengen nih berwisata ke jogja karta, pengen ke alun-alun selatan hehehe :D

    BalasHapus
  34. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  35. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Kunjungannya
Harap berkomentar yang santun
dan tidak ada unsur SARA dan pornografi
Maaf, komentar dengan link aktif akan dihapus